bukan gentlemen..

terinspirasi dari lelahnya kehidupan kereta..

======================================================================

Memasuki gerbong kereta..kita dipaksa untuk survive.
meski terkadang harus menyingkirkan yang lain jika padatnya tak terhindarkan.
namun kalau penuh pun semua orang tetap berebut masuk. Tentu untuk mendapatkan sebuah kursi pengusir lelah.
meski kursi tidak empuk namun tetap menjadi buruan utama.
ketika seseorang telah mendapatkan kursi, tak pelak malas untuk bangun meski di hadapannya berdiri banyak wanita, anak-anak ataupun tua renta. Dengan barang bawaan yang banyak atau sambil menggendong sang bayi.
memang tak semua orang tetap duduk, ada saja yang berbaik hati untuk memberi kursinya bagi yang lebih berhak.
namun tak jarang pula yang tetap duduk manis atau pura2 tidur seakan acuh pada lingkungan.
tak pernahkah terpikir oleh mereka, jika yang berdiri itu adalah istrinya..anak2 perempuannya..adik2 perempuannya, atau bahkan ibunya??
g gentleman!!

meski tak bisa dipungkiri mungkin mereka pun lelah dan butuh sejenak untuk duduk. atau memejamkan mata sebentar. yaah coba berhusnudzon itu lebih baik..

pernah suatu ketika, bawa tas yang guedee dan berat banget. meski kereta kosong namun tak dapat tempat duduk. Mungkin memang belom rejekinya.
makin lama pundak semakin sakit. kereta pun semakin penuh. akhirnya tas diturunin. sedangkan tangan masih megang tas jinjing lainnya. lama2 kaki mulai pegel..tanganpun mulai terasa sakit. hha. ingin rasanya duduk sebentaaaar aja. atau sekedar jongkok (ntar kalo jongkok malah nambah sempit).
di samping kanan kiriku ada beberapa wanita yang juga berdiri. dan tepat dihadapan semua wanita yang berdiri adalah laki2 yang duduk dengan tenang. ada yang pura2 tidur (keliatan ini mah, wong matanya merem melek) yang lainnya asik memandang keluar..ataupun melamun ditemani semilir angin. hiks enaknya..
lama2 pundak semakin g terasa..mungkin karena semakin sakit.

ini hanya sedikit cerita..bukan untuk diambil kesimpulannya.

terkadang, kita harus turut dalam perebutan kursi itu. tentu dengan cara yang baik pula tanpa harus mendorong yang lain.
kursi, bukan untuk terus menerus kita nikmati. tapi untuk dapat kita berikan pada yang lebih berhak. jika kita tak dapat kursi, mungkin akan sulit menyalurkan kepada yang berhak.
sebetulnya tanpa kursipun mungkin kita tetap bisa menolong yang lain, dengan mengingatkan yang duduk.
tapi tentu tak semudah jika kita yang memiliki kursi itu.
bukankah ada tiga hal yang bisa kita lakukan :
dengan tangan(kekuasaan) kita, dengan mulut(ucapan) kita, atau dengan hati (dan inilah selemah2 lemahnya iman).

tak ada salahnya dengan penempatan sebuah kursi, jika itu suatu media untuk menyelamatkan orang2 yang berhak diselamatkan.
====================================================================
cerita lain:
pernah juga suatu ketika, selepas ujan. beberapa kursi basah, sehingga ada beberapa yang g duduk (termasuk..hiks)
no problemo..tetap diri (udah biasa)
namun tak jauh dariku ada seorang kakek. berbaju koko putih dengan celana bahan yang serba sederhana. memakai kopiah yang hampir tak putih lagi. terlihat jelas kumis, rambut dan jenggotnya mulai memutih. (merhatiin bener ya’? :P)
kemudian dia mengelap kursi basah yang ada dihadapannya. dielap sambil digosok dengan teliti. (mungkin beliau mau duduk, jadi harus benar2 kering).
perhatianku tidak lagi di luar jendela, namun tertuju pada kakek yang tak jauh dariku.
(ngelapnya sampe kering banget!)
tak lama, dia mengelap kursi basah di sebelahnya. persis sama dengan yang dia lakukan pada kursi pertama. (kursinya jadi kinclong..bersih..wow)
kukira beliau akan duduk, namun kemudian pandangan matanya tertuju padaku!
dengan isyarat mata dan tangannya, beliau menyuruhku duduk. (lho kursinya bukan untuk si kakek??)
aku melongo. terpana.
sekali lagi beliau menyuruhku duduk. aku tersenyum padanya.
sekali lagi kukira beliau akan duduk pada kursi lain yang telah dibersihkannya.
salah!
si kakek justru mempersilahkan wanita yang berada di sebelahku tadi. (wow..baiknya..^_^)
kami berdua duduk. sedang si kakek berdiri tak jauh dariku.
kemudian beliau berdiri tepat didepan laki2. tak lama, beliau dipersilahkan duduk oleh laki2 itu. namun si kakek menolak.
beliaupun memulai pembicaraan.
kakek :”tinggal dimane ente?”
laki2 duduk: “bogor bah, abah dmn?”
kakek:”oo bogor..lah sama..ane juga di bogor..tapi skrg ane mao ke toko..pan ane punya toko minyak wangi, di depok baru. deket stasiun sito..hwehehe. maen yuk ahh.. ketempat ane”
hehe ternyata si abaha ane-ente juga.agak keliatan arab emang wajahnya.
si abah ketawa lebar. keliatan jelas giginya yang tinggal dua.
hehe..g sengaja keliatan..pas si abah nyengir..ceria!!

terlihat wajah tuanya, dengan garis2 keriput yang mewarnai wajahnya.
tangannya yang sudah menua.
ingin kurengkuh tangannya, merindukan sosok kakek yang tiada lagi kupunya.

dua episode kehidupan yang berbeda, antara gentleman vs bukan.
memaknai hidup, bahwa semua orang dijalankan berbeda. untuk memahami. mengambil ibroh sebanyak2banyaknya.
bahwa kita tak hidup sendiri..
======================================================================

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: